selamat datang di WEBSITE KPU KABUPATEN TOLITOLI provinsi sulawesi tengah   Click to listen highlighted text! selamat datang di WEBSITE KPU KABUPATEN TOLITOLI provinsi sulawesi tengah
Home / Berita / Perempuan Dalam Pemilu 2019, Antara Harapan dan Kenyataan

Perempuan Dalam Pemilu 2019, Antara Harapan dan Kenyataan

Sebanyak 575 anggota DPR RI 2019-2024 terpilih resmi dilantik dan diambil sumpahnya pada 1 Oktober 2019 lalu. Dari jumlah itu sebanyak 463 orang (80,52 persen) adalah laki-laki dan 112 orang (19,48 persen) perempuan.

Pada pemilu serentak pertama ini terjadi peningkatan keterwakilan perempuan di parlemen bahkan jika ditarik lebih kebelakang jumlahnya jadi yang tertinggi dibanding pemilu-pemilu sebelumnya. Kita bisa lihat pada Pemilu 1999 jumlah anggota DPR RI perempuan yang terpilih sebanyak 44 orang (9 persen), angkanya meningkat di Pemilu 2004 menjadi 65 orang (11,3 persen). Di pemilu berikutnya, 2009 keterwakilan perempuan meningkat kembali menjadi 100 orang (18 persen), namun di Pemilu 2014 angkanya sempat menurun menjadi 97 perempuan (17 persen) yang lolos ke Senayan.

Kita patut berbahagia bahwa peningkatan kembali terjadi di Pemilu 2019 dimana anggota dewan dari perempuan mencapai 112 (19,48 persen).

Lalu apa yang menjadi sebab angka keterpilihan perempuan diparlemen 2019 relatif meningkat dari tahun ke tahun.

Pertama kita lihat dari segi hak politik, keikutsertaan perempuan  dirumuskan pertama kalinya dalam UU Nomor 12 Tahun 2003 tentang pemilu. UU tersebut memberi peluang baru dengan menetapkan Pasal 65 ayat 1 bahwa setiap partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memerhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.

Regulasi yang dibuat oleh pemangku kebijakan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam pemilu 2019 sudah sangat banyak di antaranya keterwakilan perempuan 30 persen dalam pencalonan legislatif.

Bahkan dalam UU Pemilu Nomor 7 tahun 2017 ditegaskan dalam Pasal 246 ayat 2 bahwa daftar calon anggota legislatif memuat 3 orang bakal calon terdapat paling sedikit 1 orang perempuan bakal calon. Namun realitanya belum banyak perempuan yang mampu bersaing dalam berebut kursi legislatif.

Kedua di Indonesia hak untuk memilih dan dipilih setara baik untuk laki-laki dan perempuan. Kesetaraan ini bahkan sudah berlaku sejak 1995 sampai sekarang.

Namun yang perlu dilihat mengapa keterwakilan perempuan jauh dibawah keterwakilan anggota parlemen dari laki-laki, mari kita lihat.

Pada pemilu legislatif 2019 terdapat 7.968 orang yang terdaftar sebagai caleg, jumlah tersebut berasal dari 20 partai politik yang mengikuti pileg 2019. Dari jumlah tersebut tercatat 4.774 caleg laki-laki dan 3.194 caleg perempuan. Proporsi ini tentunya sudah memenuhi kuota 30 persen caleg perempuan seperti yang diatur dalam Undang-Undang Pemilu nomor 7 tahun 2017.

Caleg-caleg perempuan tersebut diharapkan dapat menjadi harapan terkait berbagai masalah atau isu perempuan di Indonesia seperti kekerasan dalam perempuan, kesehatan reproduksi, perkawinan perempuan dibawah umur dan lain sebagainya. Mereka diharapkan dapat menjadi corong dan mau memperjuangkan berbagai kebijakan untuk mengembangkan dan perlindungan perempuan.

Mengapa tidak banyak Anggota DPR Perempuan?

Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 secara nasional berjumlah 192.828.520 yang terdiri dari 190.770.329 pemilih dalam negeri dan 2.058.191 pemilih luar negeri. Jumlah pemilih perempuan paling banyak dibandingkan dengan jumlah pemilih laki-laki. Untuk Pemilih dalam negeri saja pemilih perempuan sebanyak 95.401.580 orang sedangkan jumlah pemilih perempuan yang ada diluar negeri sebanyak 1.155.464 orang.

Sangat disayangkan memang bila melihat jumlah pemilih di Indonesia mayoritas adalah perempuan dengan jumlah pemilih sejumlah 96.557.044 orang hanya mampu mewakilkan 112 orang perempuan di parlemen. Dari 3.194 caleg perempuan yang berkompetisi di pileg tahun 2019 ini hanya 3,5 persen saja yang lolos ke senayan. Ini menandakan bahwa belum semuanya pemilih perempuan yang ada di negeri ini memilih caleg perempuan. Di sisi lain, perempuan sendiri menganggap bahwa politik adalah dunia lelaki dan kotor yang penuh dengan korupsi. Selain itu juag faktor Budaya, agama, dan sosial juga merupakan  salah satu hambatan yang mempersulit perempuan masuk dalam parlemen.

Jadi pekerjaan rumah (PR) besar untuk partai politik kedepan adalah mampu mendapatkan kandidat caleg perempuan yang potensial untuk memenangkan pemilu legislatif dan khususnya untuk perempuan-perempuan yang terjun di dalam politik mampu menunjukkan bahwa caleg perempuan layak untuk dipilih karena kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya bukan semata-mata hanya pelengkap dari kuota 30 persen keterwakilan di parlemen saja.

Print Friendly, PDF & Email

About admin

Check Also

KPU Tetapkan Perubahan Batas Maksimal Pengeluaran Dana Kampanye bagi Kontestan di Pilkada Tolitoli Rp 13,6 M

KPU Tolitoli menetapkan perubahan batasan pengeluaran dana kampanye bagi pasangan calon (Paslon) peserta pemilihan Bupati …

Click to listen highlighted text!