selamat datang di WEBSITE KPU KABUPATEN TOLITOLI provinsi sulawesi tengah   Click to listen highlighted text! selamat datang di WEBSITE KPU KABUPATEN TOLITOLI provinsi sulawesi tengah
Home / opini / Pemilihan Gembira Tanpa Cedera

Pemilihan Gembira Tanpa Cedera

oleh: Agus Hasan Hidayat

Anggota KPU Kabupaten Kebumen Divisi Sosdiklih Parmas dan SDM

Hampir sebulan lalu Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI meluncurkan secara resmi dimulainya tahapan persiapan Pemilihan Kepala Daerah 2020. Dikemas sekaligus dalam kegiatan Konsolidasi Nasional (Konsolnas) di Jakarta 23 September 2019, pesan dari peluncuran menuju satu tahun pelaksanaan Pemilihan 2020 yang disaksikan oleh KPU se-Indonesia ini adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi pemilihan di 270 daerah yang semakin dekat.

Pemilihan 2020 sendiri sesungguhnya merupakan kelanjutan dari pemilihan serentak yang digelar sebelumnya. Indonesia telah menyelenggarakan pemilihan serentak pada Pemilihan 2015 (272 daerah), dilanjutkan dengan Pemilihan 2017 (101 daerah) dan Pemilihan 2018 (171 daerah). Semua pihak pasti berharap pelaksanaan Pemilihan Serentak 2020 juga dapat berjalan dengan sukses dan berkualitas seperti sebelumnya.

Menurut Haywood dalam (Susetyo,dkk., 2015) salah satu fungsi pemilu (termasuk di dalamnya pemilihan kepala daerah) adalah sebagai sarana pendidikan politik bagi rakyat. Berangkat dari pemahaman tersebut maka sudah seharusnya Pemilihan 2020 juga mampu menjadi ruang pendidikan politik bagi rakyat secara nyata, baik dan benar. Pendidikan politik disini bukan diartikan masyarakat mengetahui dan hafal sekian banyak teori politik, sistem demokrasi, sistem pemilu tapi rakyat memahami dan menyadari bahwa kedaulatan yang dimilikinya wajib dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi.

Urgensi atas pemahaman ini karena kedaulatan rakyat (yang dilaksanakan melalui hak memilih dalam pemilu maupun pemilihan) menjadi tolok ukur atas kualitas hasil pemilu atau pemilihan yang dilaksanakan. Semakin tinggi kesadaran pemilih terhadap proses pemilihan maupun terhadap calon yang dipilihnya, maka semakin tinggi pula harapan atas kualitas produk pemilihan yang dihasilkan.

Belajar dan berkaca pada perjalanan Pemilu 2019 yang lalu, ternyata tidak mudah menciptakan suasana pendidikan politik yang berkualitas, baik dari sisi keamanan, kenyamanan, dan keadabannya. Suasana riuh rendah, dinamika saling dukung terhadap calon presiden dan wakil presiden yang terjadi memunculkan polarisasi di masyarakat hingga memunculkan istilah-istilah yang baru, aneh dan tidak enak didengar. Seperti munculnya istilah cebong dan kampret yang bertebaran menghiasi jagad media sosial. Istilah ini ternyata merepresentasikan julukan terhadap para pendukung masing-masing calon presiden dan wakil presiden selaku kontestan pemilu. Munculnya istilah ini bahkan seringkali membuat mereka terlibat saling hujat satu dengan yang lain. Entah dari pihak siapa yang memulai namun kondisi ini cukup menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat, bahwa sesuatu yang melenceng dari fungsi pemilu sebagai sarana pendidikan politik bagi masyarakat bisa membahayakan.

Sungguh sebuah potensi buruk pendidikan politik bagi masyarakat apabila kondisi perpecahan terus terjadi dan tanpa kendali. Bangsa ini harus maju dan terdidik serta dibangun dengan informasi-informasi yang benar dan bermanfaat serta dengan cara yang bermartabat pula. Bangsa ini tidak boleh dibangun dengan cara saling hujat, saling merendahkan, menghina, dengan ungkapan-ungkapan tidak pantas serta informasi-informasi menyesatkan dan penuh kebohongan. Sebaliknya bangsa ini harus dibangun dengan sikap-sikap toleransi, penuh kesantunan, saling menghormati dan menghargai atas perbedaan serta saling dukung dalam membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.

Selanjutnya kedepan, dalam menjalani perhelatan Pemilihan Serentak 2019 kita wajib membangun suasana yang nyaman, aman dan damai sehingga tercipta suasana pendidikan politik yang kondusif dan berkeadaban. Situasi ini diharapkan pula meningkatkan partisipsi masyarakat dalam pemilihan yang bermuara pada legitimasi dari hasil pemilihan itu sendiri.

Pemilihan sebagai cara yang telah disepakati oleh bangsa dalam memilih pemimpin di daerah berfungsi sebagai instrumen untuk memastikan terjadinya transisi dan rotasi kekuasaan secara demokratis. Pemilihan harus dijalankan dengan penuh kegembiraan dan tanggungjawab tanpa menghina dan mencela yang dapat mencederai legitimasi dan kualitas pilkada yang sedang diselenggarakan. Akhirnya mari songsong dan sukseskan pemilihan kepala daerah dengan hati yang gembira, memilih pemimpin daerah sesuai dengan pengetahuan dan hati nurani yang baik, tanpa intimidasi atau tekanan dari manapun dan oleh siapapun serta siap dan sanggup menerima hasil dengan lapang dada. Selamat menyambut dan menjalani tahapan Pemilihan Serentak 2020, pilihan kita adalah masa depan bangsa, pemilih berdaulat negara kuat. (*)

Print Friendly, PDF & Email

About admin

Check Also

Perempuan Harus Terlibat Dalam Proses Politik

oleh: Siti Nurhayati Divisi Hukum Dan Pengawasan KPU Kabupaten Magelang Proses Demokrasi di Indonesia hingga …

Click to listen highlighted text!